Tampilkan postingan dengan label PERTANIAN 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERTANIAN 1. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 April 2011

Budidaya Kangkung Darat Semi Organik

Kangkung (Ipomoea sp.) dapat ditanam di dataran rendah dan dataran tinggi. Kangkung merupakan jenis tanaman sayuran daun, termasuk kedalam famili Convolvulaceae. Daun kangkung panjang, berwarna hijau keputih-putihan merupakan sumber vitamin pro vitamin A. Berdasarkan tempat tumbuh, kangkung dibedakan menjadi dua macam yaitu: 1) Kangkung darat, hidup di tempat yang kering atau tegalan, dan 2) Kangkung air, hidup ditempat yang berair dan basah. Petanian Organik adalah sebuah bentuk solusi baru guna menghadapi kebuntuan yang dihadapi petani sehubungan dengan maraknya intervensi barang-barang sintetis atas dunia pertanian sekarang ini. Dapat dilihat, mulai dari pupuk, insektisida, perangsang tumbuh, semuanya telah dibuat dari bahan-bahan yang disintesis dari senyawa-senyawa murni (biasanya un organik) di laboratorium. Pertanian organik dapat memberi perlindungan terhadap lingkungan dan konservasi sumber daya yang tidak dapat diperbaharui, memperbaiki kualitas hasil pertanian, menjaga pasokan produk pertanian sehingga harganya relatif stabil, serta memiliki orientasi dan memenuhi kebutuhan hidup ke arah permintaan pasar. Teknologi Budidaya 1. Benih Kangkung darat dapat diperbanyak dengan biji. Untuk luasan satu hektar diperlukan benih sekitar 10 kg. Varietas yang dianjurkan adalah varietas Sutra atau varietas lokal yang telah beradaptasi. 2. Persiapan Lahan Lahan terlebih dahulu dicangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur, setelah itu dibuat bedengan membujur dari Barat ke Timur agar mendapatkan cahaya penuh. Lebar bedengan sebaiknya adalah 100 cm, tinggi 30 cm dan panjang sesuai kondisi lahan. Jarak antar bedengan + 30 cm. Lahan yang asam (pH rendah) lakukan pengapuran dengan kapur kalsit atau dolomit. 3. Pemupukan Bedengan diratakan, 3 hari sebelum tanam diberikan pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 20.000 kg/ha atau pupuk kompos organik hasil fermentasi (kotoran ayam yang telah difermentasi) dengan dosis 4 kg/m2. Sebagai starter ditambahkan pupuk anorganik 150 kg/ha Urea (15 gr/m2) pada umur 10 hari setelah tanam. Agar pemberian pupuk lebih merata, pupuk Urea diaduk dengan pupuk organik kemudian diberikan secara larikan disamping barisan tanaman, jika perlu tambahkan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 1 dan 2 minggu setelah tanam. 4. Penanaman Biji kangkung darat ditanam di bedengan yang telah dipersiapkan. Buat lubang tanam dengan jarak 20 x 20 cm, tiap lubang tanamkan 2 - 5 biji kangkung. Sistem penanaman dilakukan secara zigzag atau system garitan (baris). 5. Pemeliharaan Yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan air, bila tidak turun hujan harus dilakukan penyiraman. Hal lain adalah pengendalian gulma waktu tanaman masih muda dan menjaga tanaman dari serangan hama dan penyakit. 6. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Hama yang menyerang tanaman kangkung antara lain ulat grayak (Spodoptera litura F), kutu daun (Myzus persicae Sulz) dan Aphis gossypii. Sedangkan penyakit antara lain penyakit karat putih yang disebabkan oleh Albugo ipomoea reptans. Untuk pengendalian, gunakan jenis pestisida yang aman mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya. 7. Panen Panen dilakukan setelah berumur + 30 hari setelah tanam, dengan cara mencabut tanaman sampai akarnya atau memotong pada bagian pangkal tanaman sekitar 2 cm di atas permukaan tanah. 8. Pasca Panen Pasca panen terutama diarahkan untuk menjaga kesegaran kangkung, yaitu dengan cara menempatkan kangkung yang baru dipanen di tempat yang teduh atau merendamkan bagian akar dalam air dan pengiriman produk secepat mungkin.

BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN “ Tanaman Cendana”




 
MAKALAH
BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN
“ Tanaman Cendana”
OLEH
1.       Joseph ch.bokotei
2.       Raymond Bale Doto
3.       Tri Ambesa
4.       Dedhy Otta
5.       Christovorusia Nabuasa
6.       Serdy duka


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2011

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Cendana(Santalum album Linn,) merupakan salah satu jenis tanaman terpilih dalam rangka pebangunan hutan tanaman industri (HTI) di Indonesia.berdasarkan pustaka yang ada,jenis tanaman ini adalah asli tanaman indonesia yang berasal dari pulau timor dan sekitarnya.namun karena seiring dengan perkembangan maka tanaman ini juga di budidayakan oleh masyarakat di pulau jawa yakni di daerah istimewa Yogyakarta,khususnya di Wagama kabupaten gunungkidul,dan daerah jawa timur yaitu di tempat peninggalan sejarah Hindu dan Budha serta  beberapa daerah di Jawa Tengah. Ternyata di India tanaman ini tumbuh sangat cocok.
        Tanaman Cendana tidak menuntut persyaratan tempat tumbuh yang khusus. Tanaman ini dapat tumbuh baik pada lahan kurus bahkan berbatu-batu dan beriklim kering ( tipe D dan E menurut Schmidt dan Ferguson ). Pada umumnya cendana berkembang secara alami melalui biji-bijian yang disebarkan oleh burung atau oleh aliran air, dan juga dengan tunas-tunas yang tumbuh dari akar dan tonggak pohon. Pengembangan cendana dapat pula melalui tunas akar.
        Karena tanaman cendana dapat berkembang melalui biji dan tunas akar, maka tidak diragukan lagi bahwa jenis tanaman ini dapat tumbuh secara alami di tempat-tempat yang jauh dari induknya. Tanaman cendana yang masih muda umumnya membutuhkan tanaman inang karena tanaman cendana ini bersifat semi parasit. Tanaman inang dapat berupa rumput-rumputan ataupun tanaman berkayu.
        Meskipun tanaman cendana itu tidak membutuhkan persyaratan tumbuh yang khusus, maka tanaman ini dapat tumbuh dengan baik dimana saja, baik di tempat yang subur maupun di tempat-tempat berbatu  dan beriklim kering. Walaupun demikian, dalam proses pertumbuhannya, tanaman cendana tidak lepas pula dari berbagai faktor pengganggu yang terdapat di lingkungan tumbuhnya.
        Kayu pohon cendana,baik pada bagian tengah maupun bagian akarnya mengandung minyak cendana yang mempunyai aroma harum yang spesifik sehingga membuat kayu cendana ini memiliki nilai ekonomi tertinggi di antara jenis-jenis kayu mewah yang lain.dalam dunia perdagangan kayu cendana di kenal dengan nama Sandalwood yang sangat digemari oleh bangsa-bangsa di dunia terutama bangsa-bangsa di Timor Tengah karena aromanya yang harum dan spesifik tersebut.
        Kayu cendana dapat disuling dan menghasilkan minyak cendana yang diperdagangkan sebagai bahan obat-obatan dan bahan minyak wangi (parfum). Perdagangan minyak cendana dunia didominasi oleh India,sedangkan Indonesia menduduki tempat kedua.  Kayu cendana juga dapat digunakan untuk bahan industri kerajinan tangan seperti ukir-ukiran, patung, kipas, dan lain-lainnya. Sedangkan daun cendana dapat digunakan sebagai makanan ternak dan pupuk.
1.2   Tujuan dan Kegunaan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu untuk mengetahui bagaimana budidaya tanaman kayu cendana.
Kegunanan dari makalah ini sebagai bukti tugas terakhir mata kulih budidaya tanaman tahunan


BAB 11
BIOLOGI TANAMAN


A.  Klasifikasi Tanaman Cendana
Menurut Adrianti (1989), tanaman cendana dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Division     : Spermatophyte (Magnolyophyta)
Subdivision     : Angiospermae (Magnolyophytina)
Klasis        : Dycotiledoneae
Sub klasis        : Rosidae
Ordo          : Santales
Familia            : Santaleceae
Genus        : Santalum
Sepsis : Santalum album
Sebelum dikenal dengan nama Santalum album L., cendana mempunyai beberapa nama ilmiah yaitu Sirium mytrifolium L. (1771), Santalum ovatum R. Br. (1810) dan Santalum mytrifolium (L.) Roxb. (1814). Cendana dikenal juga dengan beberapa nama lokal seperti: East Indian Sandalwood, White Sandalwood, Yelow Sandalwood (inggris), Bois Santal (Perancis), cendana (Indonesia secara umum), ainitu (sumba), haumeni (timor), kayu ata (flores), chendana (Malaysia), san-ta-ku (Burma), dan chan-tana (Thailand).

B.   Morfologi Tanaman Cendana

1.      Batang
Batang cendana berbentuk bulat dengan kulit batang yang kasar berwarna cokelat keabu-abuan sampai kelabu dan memiliki percabangan banyak yang tidak berbanir. Tangkai-tangkai primer berkedudukan tidak teratur. Sebagian besar bentuknya bengkok dan banyak cabang. Ukuran pohon cendana relative kecil tetapi dapat mencapai ketinggian 18 m dengan diameter batang dapat mencapai 40 cm.
2.      Daun
Daun cendana berbentuk elips sampai lanset. Kedudukan daun berhadap-hadapan dan ujung daun runcing. Berdasarkan ukuran daunnya tanaman cendana terdiri dari 2 jenis yaitu jenis cendana daun besar (Santalum album varietas Largifolia) dan jenis candana daun kecil (Santalum album varietas album).
3.      Buah
Tanaman cendana mulai berbuah pada umur 3 – 4 tahun. Bunganya berbentuk jambul yang muncul dari ujung ranting dan ketiak daun. Warna bunga cokelat keungu-unguan, dan tidak berbau. Buah berbentuk bulat dan buah yang telah matang kulit buahnya berwarna hitam keungu-unguan sedangkan buah yang masih muda berwarna hijau. Buah cendana berdiaeter 5 – 8 mm dengan berat sekitar 0,17 g. musim berbunga atau berbuah untuk tanaman cendana berbeda-beda, namun pada umumnya berbunga pada bulan juni sampai September, dan buah masak pada bulan februari dan maret.
4.      Batang
Inti kayu (empulur) cendana keras, serat-seratnya rapat, berwarna cokelat kekuning-kuningan. Gubalnya berarna putih dan tidak berbau. Pembentukan kayu teras dimulai pada umur 4 – 6 tahun. Tetapi yang sempurna adalah setelah berumur 30 – 80 tahun.
Teras kayu cendana ada yang berwarna gelap dan ada pula yang berwarna terang. Teras cendana yang berwarna terang mengandung minyak lebih banyak dari pada yang berwarna gelap. Pertumbuhan keliling (lingkar) batangnya agak lambat yaitu sekitar 1 cm per tahun dan pembentukan teras mencapai 1 – 2 kg per tahun.
5.      Akar
Setiap perakarannya sangat dangkal dan mendatar serta menyebar sangat luas mencapai 30 – 40 m. sistim perakaran ini terdiri atas akar tunggang dan akar samping yang bercabang-cabang halus dan jika dilukai maka akan tumbh tunas-tunas. Menurut pengamatan Wawo (2002), cendana yang berasal dari biji umumnya memiliki akar pancang yang tumbuh secara vertikal, sedangkan yang tumbuh dari tunas tidak memiliki akar pancang.

C.pengadaan bibit
            Dalam pengadaan bibit tanaman cenddana di gunakan  dua cara yaitu secara generatif dan secara vegetatif:
A.secara generatif
     Pengadaan bibit dengan cara generatif adalah dengan pengecabahan benih atau biji cendana,untuk memperoleh bibit generatif yang baik,maka perlu di perhatikan tahap-tahap pekerjaan sebagai berikut:
BAB 111
KESESUAIAN LINGKUNGAN TUMBUH

A.      SYARAT TUMBUH

1.       Tanah
Bentuk pohon cendana berbeda-beda menurut kondisi tempat tumbuhnya.jika tumbuh pada tempat terbuka (terkena sinar matahari sepanjang hari) atau bernaungan ringan,maka tajuk pohonnya jarang atau tidak rapat dan tingginya hanya mencapai maksimum 12 m.pada musim kemarau daunnya jarang atau hampir tidak ada daunnya,dengan warna daunnya hijau mudah hingga sampai kuning.namun jika tumbuh pada naungan pohon lain yang berat,maka ketinggian pohon dapat mencapai 15-18 m dengan keliling sekitar 2.4 m.daunnya besar dan lebih tebal dengan warna hijau lebih tua dari pada pohon yang tumbuh di tempat terbuka,
Cendana dapat tumbuh di daerah-daerah yang ketinggiannya 50-1200 m di atas permukaan laut.namun demikian,pada umumnya tanaman cendana lebih banyak di temukan pada ketinggian 400-800 m di atas permukaan laut.
Tanaman cendana dapat tumbuh lebih baik pada tanah yang berhumus, tanah vulkanis yang gembur dan berbatu dari pada tanah yang miskin hara (Sunanto, 1995) di pulau Timor cendana dapat tumbuh pada tanah dangkal, berbatu, tekstur tanah lempung, pH tanah netral sampai alkali, kadar nitrogen tinggi, warna tanah merah sampai coklat, tetapi tidak dapat tumbuh pada tanah rawa dan vertisol (Sinaga dan Surata, 1997).
Dari hasil penelitian di lakukan di NTT yang merupakan sentral tanaman cendana di indonesia ini menunjukan bahwa tanaman cendana dapat tumbuh dengan baik jika di tanam bersama dalam satu lubang tanam dengan tanaman accacia villosa.dengan jarak tanam 6 x 6 meter. Dan di antara pohon turi dengan jarak tanam rapat 2 x 2 meter.
2.       Iklim
Tanaman cendana dapat tumbuh dengan baik pada kondisi iklim yang kering, pada daerah dengan curah hujan rata-rata antara 625 – 1625 mm/thn. Tipe iklim yang cocok untuk pertumbuhan cendana menurut Schmidth dan Ferguson dalam Sunanto (1995) adalah tipe iklim D dan E yaitu pada kondisi iklim sedang  dan agak kering dengan rata-rata temperature berkisar antara 10­o C – 35oC.
Proses pengolahan
Jenis –jenis pembibitan
BAB IV
RELEVANSI BUDIDAYA TANAMAN CENDANA DI LAHAN KERING NTT



BAB V
KESIMPULAN



Senin, 18 April 2011

hakekat ilmu dan pengetahuan

MAKALAH METODE ILMIAH
“HAKEKAT ILMU DAN PENGETAHUAN”



NAMA : 1. JOSEPH CH.BOKOTEI/0804022597




FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
2011




BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Ilmu adalah penyempadanan (pembatasan) prosedur-prosedur yang dapat membimbing penelitian menurut arah tertentu. Ilmu berubah sesuai lingkungan budaya dan konstelasi sosial. Dalam arti ini ilmu harus sanggup mengakui pengaruh timbal balik dari penilaian. Ilmu merupakan keseimbangan yang berharga menghadapi ideologi. Suatu ideologi dapat menyelamatkan ilmu menjadi pandangan dunia atau agama. Ilmu merupakan serangkaian peta mengenai endapan pengetahuan, namun sekaligus memperluas kemungkinan agar manusia dapat menentukan kiblat. Ilmu lebih daripada hanya cungkilan dari kebenaran teoritis melulu.
Menerapkan ilmu pada kejuruan dan teknik mempengaruhi kegiatan ilmiah, akan tetapi sebagai penerapan yang lebih merupakan akibat penggunaan metode yang tepat dalam ilmu sendiri. Metode berarti bahwa penyelidikan berlangsung menurut suatu rencana tertentu. Atau “suatu jalan yang harus ditempuh”. Metode digunakan dengan tujuan agar manusia tidak bekerja dengan semaunya saja, akan tetapi dengan cermat menentukan jalan menuju tujuan. Metode mempunyai kedudukan yang khas dalam ilmu. Suatu metode disusun menurut bahasa atau lebih luas, memakai sistem lambang. Oleh karena itu metode ilmiah timbul dengan membatasi secara tegas bahasa yang dipakai oleh ilmu tertentu.
Bahasa Ilmu sebagai bagian bahasa pergaulan (“epibahasa”) dan system bahasa ilmiah yang baru, yang sasarannya adalah penyelidikan bahasa suatu ilmu yang sudah ada “metabahasa”. Pada bahasa sehari-hari bersifat evaluatif, tidak merupakan sistem tertutup (bermakna ganda), pemakaian bahasa yang kurang tepat. Sedangkan Bahasa Ilmiah mempunyai ciri-ciri bebas nilai membentuk sistem yang tertutup (definisi yang tunggal), pemakaian bahasa yang sesuai. Peralihan dari bahasa harian ke bahasa ilmiah sudah ada pada peralihan dari pengamatan harian ke observasi ilmiah. Pada pengamatan dan observasi sebenarnya berbeda. Observasi subyektivitas diri dikesampingkan, pemerian data nirpribadi nonpersonal), melupakan yang sudah terjadi, diatur oleh suatu metode/sebuah teori, fakta sebuah ilmu/pembatasan dalam pengamatan. Pada pengamatan bersifat emosional, subyektif, berprasangka dan dwiarti, sarat dengan ketidakpastian.
Observasi seperti pengamatan, menuju kepada pemerian. Setiap pemerian, dan secara tersirat dalam pengamatan dan observasi juga mengandung pengertian-pengertian. Dalam sistem bahasa pengertian dapat disebut ‘istilah’. Pengelompokkan (klasifikasi) terdapat pada bahasa harian maupun bahasa ilmu. Umumnya klasifikasi bahasa harian kurang teoritis, sebaliknya lebih praktis tujuannya. Klasifikasi ilmiah ditentukan oleh teori, maka jangkauannya lebih khas dan lebih pendek. Metode pengelompokkan makin teliti berkat bermacam-macam perbaikan. Titik berat usaha (klasifikasi) ini beralih dari intuitif ke yang konseptual, dan dari yang mengenai isi ke yang formal. Klasifikasi ilmiah lebih menggunakan pembagian yang kurang terperinci, yang memungkinkan pembatasan dan keputusan yang lebih jelas. Hal ini menandakan bahwa metode suatu ilmu kiranya tidak dapat menghasilkan suatu sistem tertutup mutlak, tidak dapat dihindari, sekurang-kurangnya tidak langsung bahwa suatu sistem bahasa akhirnya ditujukan kepada dirinya sendiri, dan tidak dapat memencilkan diri ke dalam strukturnya lepas dari bahasa harian. Observasi dan klasifikasi bertautan erat. Kedua-duanya dihasilkan oleh metode ilmiah. Klasifikasi-klasifikasi berkurang sifat alamiahnya dan lebih bersifat buatan. Observasi dan klasifikasi ilmiah menangani gejala lebih sadar sehingga lebih dialihragamkan. Metode ilmiah memperbesar kekuasaan atas gejala. Ilmu menjadi bebas memaksakan gejala memasuki kerangka-kerangka yang sudah jadi.
Ilmu mempunyai ciri khas sebagai sitem terbuka, tetapi ilmu sering dianggap sebagai sistem tertutup. Menurut A. Comte setiap ilmu terdiri atas koordinasi fakta dan makin maju ilmu-ilmu, fakta makin bergayut pada metode. Secara metodis terjadinya suatu ilmu dapat berlangsung juga tanpa diiringi timbulnya masalah-masalah berkat peranan percobaan-percobaan itu berfungsi sebagai gerbang. Terdapat pandangan ilmu sebagai sistem terbuka. Ilmu memiliki kedudukan sendiri tetapi dalam saling tindak dengan konteks, yang ikut mempengaruhi perkembangan lebih lanjut sistem ilmiah. Terdapat otonomi ilmu, namun otonomi yang relatif atau lebih tepat rasional artinya otonomi yang berfungsi dalam hubungan dengan konteks politis, sosial, etis, dan pandangan hidup. Istilah sistem terbuka sering dipakai, mula-mula untuk gejala tertentu, kemudian untuk seluruh bangunan ilmu. Bagi manusia istilah ‘sistem terbuka’ mendapat arti yang lebih luas. Boleh dikatakan bahwa seluruh kebudayaan manusiawi, termasuk pertanian, urbanisasi, permainan, aturan, susila, kesenian, dan agama merupakan bagian dari sistem terbuka manusiawi.
Ciri ilmu merupakan sistem terbuka adalah ilmu merupakan kebudayaan manusiawi, Ilmu berbentuk dinamis, dan yang menanggapi dunia sekelilingnya. Kemandirian (otonomi), tetapi yang amat luwes lewat penyesuaian terus menerus kepada informasi dari konteks dan lewat pembaruan kreatif. Teori ternyata merupakan keseimbangan antara ‘konsepsi’ dan ‘empiris’. Ini sesuai dengan sifat system terbuka yang selalu merupakan keseimbangan dinamis antara pengaruh dari dunia luar. Ilmu dengan seluruh rengrengan keterangan ternyata tidak dapat dilihat lepas dari konteks. Sistem ini mempunyai juga fungsi menjangkau, meramalkan dan mencari arah. “menerangkan” ternyata ada hubungan dengan ‘pengertian’ dan ‘memahami’, artinya kesadaran akan adanya bidang kemungkinan yang lebih luas untuk mengembangkan suatu teori ilmiah.
Menurut ahli filsafat klasik, seperti B. Spinoza dan G. W. Leibniz, tetapi juga menurut anggapan sehari-hari, yang kadang-kadang bersifat intuitif dalam banyak ilmu, hukum sebab akibat berlaku di seluruh alam semesta. Kausalitas merupakan bawaan (innate) budi manusia sendiri. Menurut Kant Struktur tetap dialihkan seluruhnya dari alam kepada penyusunan ilmiah gejala dan dengan demikian ilmu mencapai ketertutupan yang lebih ketat (kausalitas keteraturan alam sendiri). W. Hamilton bernalar kausal didasarkan pada logika penalar. Bernalar kausal didasarkan pada identitas logis ‘setiap perubahan ada sebabnya’. Pendapat modern menganggap kausalitas sebagai sesuatu yang tidak pertama-tama termasuk kenyataan di luar ilmu, melainkan yang menyangkut pola keterangan penalaran ilmiah sendiri.
Kausalitas dalam teori ilmu modern makin menjadi bagian prosedur penjabaran. Peranan kausalitas diambil alih oleh model deduktif-nomologis. Dengan demikian pembatasan sistem ilmiah akan menjadi jelas . Ilmu mencari pembulatan penyempadanan untuk membentuk sistem tertutup. Ilmu merupakan sistem tertutup dipertentangakan dengan pendirian ekstrem lain, yaitu bahwa sebetulnya sama sekali tidak ada sistem ilmu yang otonom. Ilmu terbuka lebar, karena dihasilkan oleh konteks yaitu oleh faktor entah psikis, sosial, atau ideologis.
Pada sistem ilmiah selalu ada pengaruh dari luar. Suatu sistem ilmiah ialah berdasarkan struktur objektif yang mendasari pengetahuan ilmiah, meneliti apakah isi, susunan dan batas-batas ilmu tertentu. Menurut Kan istilah “ide” adalah suatu konsep yang tidak mungkin lagi dibuktikan secara ilmiah, jadi tidak termasuk struktur obyektif ilmu. Ide ini justru memungkinkan bukti ilmiah, pengaturan dan kesatuan. Bahasa Ilmiah sedapat-dapatnya menyingkirkan penilaian susila dan keterlibatan subyek. Ilmu tidak pernah merupakan suatu system tertutup bulat dan justru sifat tidak tertutup ini mengacu kepada keharusan selalu membicarakan system itu dan memperluasnya. Atau dengan lain perkataan konsistensi metodis sistem ilmiah bertautan langsung dengan keterbukaan sistem bagi ide-ide regulatif.
Sistem ilmiah bersifat dinamis, karena merupakan bentuk khas lewat obyektivitas dan ambil tenggang , mengenai usaha manusia menyingkapkan dunia dalam kebudayaannya.Ilmu merupakan bagian, mungkin juga alat, dalam strategi manusia yang menyeluruh. Strategi ini ialah keseluruhan kaidah untuk mencapai suatu tujuan. Metodologi ilmu harus tetap terbuka demi penyusunan kembali. Strategi ilmu adalah bagian strategi lebih luas dalam seluruh kebudayaan manusia. Dalam kebudayaan itu “kenyataan” masih bermatra (dimensi) lebih luas dari pada segi-segi yang hanya dapat dipahami secara teoritis. Seluruh strategi ilmu merupakan kerangka acuan, ruang rengrengan pembenaran atau keterangan baru berlaku.
Terhadap latar belakang strategi total suatu ilmu ini semua pasti tidak mengandung relativisme. Ciri-ciri (1) suatu sistem ilmu selalu mengandung suatu pilihan dan pembatasan (restriksi) tertentu, juga terhadap patokan kesahian. (2) sistem semacam itu, mengingat zaman dan kebudayaan, dapat memperoleh wujud lain. (3) dengan demikian, bentuk yang satu tidak terasingkan dari bentuk lain, jadi kesinambungan strategi tetap utuh. Suatu sistem ilmiah tertentu, menurut bangunannya yang metodologis, merupakan endapan strategi ilmu. Untuk mengenal strategi suatu ilmu, kaidah yang mendalangi tiap-tiap langkah, perlu mengerti bagaimana strategi itu terjadi, jadi mengerti heuristic. Yang dimaksud heuristic adalah bukan medan ilhan genial, penemuan kebetulan, dan ide-ide yang berani. Heuristic ialah pengertian akan wilayah lebih luas dari pada hanya sistem metodis ketat,pengertian akan jalan menuju kesahian sistem.
Heuristik relevan secara metodologis, karena dapat mengatur terjadinya suatu ilmu maupun pembaruan secara kreatif, “ikut mengatur”, artinya bahwa heuristic mencakup petunjuk dan kaidah, walaupun itu tidak memiliki bentuk tertutup logis seperti suatu metodologi. Kaidah heuristik meliputi (1) setiapstrategi suatu ilmu yang masih giat pada pratahap heuristis, meraba-raba kemungkinan untuk memperbaiki strategi yang sedang timbul. (2) menggapai kembali dari system ilmiah kepada pranggapan-praanggapan. Bukan tersurat dalam sistem tersebut, jadi yang merupakan sebagian struktur bahasan. Yang dimaksud adalah ialah pranggapan yang bersatu dengan sistem, kadang-kadang seluruh kerangka berpikir histories atau budaya, sehingga tidak dilihat. (3) akibat dari yang baru dikatakan. Heuristic dapat, karena bentuk yang logis kurang tertutup dengan pasti, menemukan alternative-alternatif. (4) bahwa proses terjadinya dan pembaruan suatu ilmu dimajukan oleh pengertian masalah etis (5) kepekaan terhadap masalah-masalah.
Heuristik tugasnya semacam sebagai fungsi jembatan. Karena menunjukkan hubungan mutlak antara ilmu dengan pengertian dan sikap luar-ilmu, memperlihatkan keterlibatan ilmu baik pada kiblat insani maupun pada kenyataan. Heuristik menimbulkan kepekaan akan konteks tetapin tidak menyediakan suatu metodologi. Maka sebetulnya tidak ada buku pegangan bagi ilmu heuristic justru ditemui pada penelitian yang memautkan ilmu dengan masalah etis, sosial dan metafisis.
Ilmu terapan merupakan bagian terbesar ilmu-ilmu. Ilmu terapan artinya lebih luas dari hanya penerapan ilmu yang meliputi bidang teknik yang lebih luas. Teknik bukan ilmu, namun ilmu-ilmu teknik termasuk wilayah ilmu, karena ilmu teknik merupakan ilmu obyek penelitian teoritis. Ciri khas ilmu terapan adalah bersifat mutlak. Percobaan tidak berfungsi sebagai penerapan, melainkan untuk menguji rancangan teoritis (hipotesis). Faktor kebetulan menjadi obyek penelitian ilmu terapan, yang juga disebut ilmu praktis. Pada ilmu terapan, ilmu memasuki masyarakat lebih mendalam. Kemudian ilmu berusaha juga menangkap lebih banyak unsur kebetulan dari konteks masuk jaringan keterangan ilmiah. Dan sebaliknya tujuan dunia praktis akan menjadi bagian dari teori ilmu. Ilmu dapat meresap masuk dunia harian secara praktis dan teknis, ilmu tidak dapat mengorbankan sistemnya, ilmu juga dapat sungguh-sungguh bekerja secara instrumental.

1.2 TUJUAN DAN KEGUNAAN

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu:
1. Mengetahui pengertian ilmu dan pengetahuan?
2. Mengetahui syarat,karaketeristik dan ciri dari ilmu?
3. Mengetahui perbedaan ilmu dan pengetahuan?
Adapun KEGUNAAN dari makalah ini yaitu sebagai tugas METODE ILMIAH
1.3 METODE PENELITIAN
Metode yang di gunakan dalam makalah ini adalah study pustaka.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN ILMU
Apakah ilmu itu? Moh. Nazir, Ph.D (1983:9) mengemukakan bahwa ilmu tidak lain dari suatu pengetahuan, baik Natura atau pun sosial, yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematik menurut kaidah umum. Sedangkan Ahmad Tafsir (1992:15) memberikan batasan ilmu sebagai pengetahuan logis dan mempunyai bukti empiris. Sementara itu, Sikun Pribadi (1972:1-2) merumuskan pengertian ilmu secara lebih rinci (ia menyebutnya ilmu pengetahuan), bahwa : “Obyek ilmu pengetahuan ialah dunia fenomenal, dan metode pendekatannya berdasarkan pengalaman (experience) dengan menggunakan berbagai cara seperti observasi, eksperimen, survey, studi kasus, dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman itu diolah oleh fikiran atas dasar hukum logika yang tertib. data yang dikumpulkan diolah dengan cara analitis, induktif, kemudian ditentukan relasi antara data-data, diantaranya relasi kausalitas. konsepsi-konsepsi dan relasi-relasi disusun menurut suatu sistem tertentu yang merupakan suatu keseluruhan yang terintegratif. Keseluruhan integratif itu kita sebut ilmu pengetahuan.”
Di lain pihak, Lorens Bagus (1996:307-308) mengemukakan bahwa ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke obyek (atau alam obyek) yang sama dan saling keterkaitan secara logis. dari beberapa pengertian ilmu di atas dapat diperoleh gambaran bahwa pada prinsipnya ilmu merupakan suatu usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan pengetahuan atau fakta yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, dan dilanjutkan dengan pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode yang biasa dilakukan dalam penelitian ilmiah (observasi, eksperimen, survai, studi kasus dan lain-lain)

2.2 SYARAT-SYARAT ILMU
Suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu apabila dapat memenuhi persyaratan-persyaratan, sebagai berikut:
1. Ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti, baik yang berhubungan dengan alam (kosmologi) maupun tentang manusia (Biopsikososial). Ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti. Lorens Bagus (1996) menjelaskan bahwa dalam teori skolastik terdapat pembedaan antara obyek material dan obyek formal. obyek formal merupakan obyek konkret yang disimak ilmu. Sedang obyek formal merupakan aspek khusus atau sudut pandang terhadap ilmu. yang mencirikan setiap ilmu adalah obyek formalnya. Sementara obyek material yang sama dapat dikaji oleh banyak ilmu lain.
2. Ilmu mensyaratkan adanya metode tertentu, yang di dalamnya berisi pendekatan dan teknik tertentu. Metode ini dikenal dengan istilah metode ilmiah. dalam hal ini, Moh. Nazir, (1983:43) mengungkapkan bahwa metode ilmiah boleh dikatakan merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interrelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilimiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Almack (1939) mengatakan bahwa metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesutu interrelasi.
Selanjutnya pada bagian lain Moh. Nazir mengemukakan beberapa kriteria metode ilmiah dalam perspektif penelitian kuantitatif, diantaranya:
(a) berdasarkan fakta,
(b) bebas dari prasangka,
(c) menggunakan prinsip-prinsip analisa,
(d) menggunakan hipotesa,
(e) menggunakan ukuran obyektif dan menggunakan teknik kuantifikasi.
Belakangan ini berkembang pula metode ilmiah dengan pendekatan kualitatif. Nasution (1996:9-12) mengemukakan ciri-ciri metode ilimiah dalam penelitian kualitatif, diantaranya :
(a) sumber data ialah situasi yang wajar atau natural setting.
(b) peneliti sebagai instrumen penelitian
(c) sangat deskriptif
(d) mementingkan proses maupun produk
(e) mencari makna
(f) mengutamakan data langsung
(g) triangulasi
(h) menonjolkan rincian kontekstual,
(h) subyek yang diteliti dipandang berkedudukan sama dengan peneliti
(i) mengutama- kan perspektif emic
(j) verifikasi
(k) sampling yang purposif
(l) menggunakan audit trail
(m)partisipatipatif tanpa mengganggu,
(n) mengadakan analisis sejak awal penelitian,
(o) disain penelitian tampil dalam proses penelitian.
3. Pokok permasalahan(subject matter atau focus of interest). ilmu mensyaratkan adanya pokok permasalahan yang akan dikaji. Mengenai focus of interest ini Husein Al-Kaff dalam Kuliah Filsafat Islam di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad menjelaskan bahwa ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka masalah masalah yang sederhana tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (worldview), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi (Husein Al-Kaff, Filsafat Ilmu,)

2.3 KARAKTERISTIK ILMU
Di samping memiliki syarat-syarat tertentu, ilmu memiliki pula karakteristik atau sifat yang menjadi ciri hakiki ilmu. Randall dan Buchler mengemukakan beberapa karakteristik umum ilmu, yaitu :
(1) hasil ilmu bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama
(2) Hasil ilmu kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan
(3) obyektif tidak bergantung pada pemahaman secara pribadi.
Pendapat senada diajukan oleh Ralph Ross dan Enerst Van den Haag bahwa ilmu memiliki sifat-sifat rasional, empiris, umum, dan akumulatif (Uyoh Sadulloh,1994:44).
Sementara, dari apa yang dikemukakan oleh Lorens Bagus (1996:307-308) tentang pengertian ilmu dapat didentifikasi bahwa salah satu sifat ilmu adalah koheren yakni tidak kontradiksi dengan kenyataan. Sedangkan berkenaan dengan metode pengembangan ilmu, ilmu memiliki ciri-ciri dan sifat-sifat yang reliable, valid, dan akurat. Artinya, usaha untuk memperoleh dan mengembangkan ilmu dilakukan melalui pengukuran dengan menggunakan alat ukur yang memiliki keterandalan dan keabsahan yang tinggi, serta penarikan kesimpulan yang memiliki akurasi dengan tingkat siginifikansi yang tinggi pula. Bahkan dapat memberikan daya prediksi atas kemungkinan-kemungkinan suatu hal
Sementara itu, Ismaun (2001) mengetengahkan sifat atau ciri-ciri ilmu sebagai berikut :
(1) Obyektif;
Ilmu berdasarkan hal-hal yang obyektif, dapat diamati dan tidak berdasarkan pada emosional subyektif,
(2) Koheren; Pernyataan/susunan ilmu tidak kontradiksi dengan kenyataan
(3) Reliable
Produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keterandalan (reabilitas) tinggi
(4) Valid
Produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keabsahan (validitas) yang tinggi, baik secara internal maupun eksternal
(5) Memiliki generalisasi; suatu kesimpulan dalam ilmu dapat berlaku umum
(6) Akurat; penarikan kesimpulan memiliki keakuratan (akurasi) yang tinggi,
(7) Dapat melakukan Prediksi
Ilmu dapat memberikan daya prediksi atas kemungkinan-kemungkinan suatu hal.
Adapun ciri-ciri utama ilmu adalah;
1. Ilmu adalah sebagian pengetahuan yang bersifat empiris,sistematis,dapat diukur,dan dibuktikan,berbeda dengan iman,yaitu pengetahuan berdasarkan keyakinan.Berbeda dengan pengetahuan. Ilmu tidak pernah mengartikan kepingan pengetahuan satu putusab tersendir, sebaliknya ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke objek yang sama dan saling berkaitan secara logis.
2. Ilmu tidak memerlukan kepastian secara lengkap berkenaan dengan penalaran perorangan, sebab ilmu dapat memuat didalamnya dirinya sendiri hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang belum sepenuhnya dimantapkan.
3. Ciri hakikinya ilmu adalah metodologi,sebab kaitan logis yang dicari ilmu tidak dicapai dengan penggabungan tidak teratur dan tidak terarah dari banyak pengamatan dari ide yang terpisah-pisah,sebaliknya ilmu menuntut pengamatan dan berpikir modis
4. Kesatuan ilmu bersumber didalam kesatuan objeknya.

2.4 DEFINISI PENGTAHUAN
Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata knowledge. sedangkan secara terminologi menurut Drs Sidi Gazalba, pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu, pekerjaan hasil tahu itu adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai. Dengan emikian pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.
1.Jenis pengetahuan
I. Pengetahuan biasa, yakni dalam filsafat disebut common sense, yaitu seseorang memiliki sesuatu dimana ia menerima dengan baik.
II. Pengetahuan ilmu. Yaitu trjemahan dari science, dalam pengrtian sempindapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kuantitatif dan objektif.
III. Pengetahuan filsafat, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat komtemplatif yang bersifat spekulatif
IV. Pengetahuan agama. Pengetahuan yang diperoleh dari tuhan lewat para utusannya, pengetahuan agama bersifat wajib diyakini para pemeluk agama.

2.5 HAKIKAT DAN SUMBER PENGETAHUAN

Pengetahuan berkembang dari rasa ingin tahu, yang merupakan ci khas manusia karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengtahuan secara sungguh-sungguh.Manusia meengembangkan pengetahuan untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan dan kelangsungan hidupnya, dia memikirkan hal-hal baru karena dia hidip bukan sekadaruntuk kelangsungan hidupnya namun lebih dari itu.Hakikat pengetahuan adalah keadaan mental, mengetahui sesuatu adalah menyusun pendapat tentang suatu objek, dengn kata lain menyusun gambaran tentang fakta yang ada diluar akal.sumber pengeahuan cara memperoleh pengetahuan.

Ada dua pendapat yang menyatakan bahwa kita memperoleh dengan beberapa cara yaitu yang pertama:
1. Melalui orang lain. Orang lain memberi tahukan kepada kita, baik secara langsung maupun tidak langsung
2. Pengalaman diri sendiri. Secara langsung oarang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang baik. Pengetahuan diperoleh dari pengalaman dengan mempelajari pengalaman kita sendiri.dan yang kedua ialah dengan beberapa cara:
I. Dengan metode keteguhan, dengan metode ini orang menerima suatu kebenaran karena mersa yakin akan kebenaran itu
II. Metode otoritas, sesuatu diterima sebagai kebenaran karena sumbernya mempunyai otoritas untuk itu
III. Metode intuisi. Menurut Henry Bregson intuisi adalah hasil dari evolusi, pemahaman yang tertinngi. Kemampuan ini mirip dengan insting. Tetapi berbeda dengn kesadarannya
IV. Metode tradisi. Orang menerima kebenaran sesuai dengan tradisi terdahulu, yang berlaku dilingkungannya
V. Metode trial and error. Pengeetahuan ini diperoleh melalui pengalaman langsung
VI. Metode ilmiah, dilakukan dengan proses deduksi dan induksi dengan beberapa pertimbangan yaitu; menurut Moh .Nazir menyebutkan 6 kriteria pada metode ini
 Berdasarkan fakta
 Bebas dari prasangka
 Menggunakan prinsip analisis
 Menggunakan hipotesis
 Menggunakan ukuran objektif
 Menggunakan teknik kuantitatif

2.6HAKEKAT ILMU PENGETAHUAN DALAM TATANAN KEHIDUPAN

Bahasa Ilmu sebagai bagian bahasa pergaulan (“epibahasa”) dan system bahasa ilmiah yang baru, yang sasarannya adalah penyelidikan bahasa suatu ilmu yang sudah ada “metabahasa”. Pada bahasa sehari-hari bersifat evaluatif, tidak merupakan sistem tertutup (bermakna ganda), pemakaian bahasa yang kurang tepat. Sedangkan Bahasa Ilmiah mempunyai ciri-ciri bebas nilai membentuk sistem yang tertutup (definisi yang tunggal), pemakaian bahasa yang sesuai. Peralihan dari bahasa harian ke bahasa ilmiah sudah ada pada peralihan dari pengamatan harian ke observasi ilmiah. Pada pengamatan dan observasi sebenarnya berbeda. Observasi subyektivitas diri dikesampingkan, pemerian data nirpribadi nonpersonal), melupakan yang sudah terjadi, diatur oleh suatu metode/sebuah teori, fakta sebuah ilmu/pembatasan dalam pengamatan. Pada pengamatan bersifat emosional, subyektif, berprasangka dan dwiarti, sarat dengan ketidakpastian.
Psikologisme mendasarkan kepastian logis pada kontingensi berfungsinya psikis budi manusia. Metodologi ilmu tak lain tak bukan menjadi psikologi. Psikologisme meluas pada bidang lain. Ilmu juga merupakan sebuah gejala sosial ini disebut sosiologi ilmu. Apabila orang ingin menerangkan secara sosiologis melulu tidak hanya peranan ilmu dalam masyarakat, melainkan juga akan keyakinan akan kebenaran suatu teori ilmiah (fakta sosial).
Ilmu dapat berperan secara khas dengan melayani masyarakat. Ilmu tidak hanya diperikan dengan bertolak dari kekuatan sosial, melainkan juga juga dengan penilaian sosial-politik. Ilmu hanya dilihat sebagai ilmu terapan. Tiada lagi ilmu murni dan segala teori hanya pegangan untuk mengubah masyarakat.
Metodologi ilmu menghadapi masalah yaitu (1) kreativitas dalam ilmu, (2) ilmu bersama anak kandungnya, teknik, makin berperan dalam mewujudkan masyarakat dan budaya. Kedua faktor tersebut ternyata akan berperan pada hubungan yang perlu dimiliki secara intrinsic oleh suatu sistem ilmiah, baik dengan heuristic maupun dengan etika. Etika amat berperan pada semua diskusi mengenai ilmu. Dalam kebijakan dunia pendidikan ilmu dimanfaatkan secara sadar. Adapun heuristik itu ialah teori menemukan jalan untuk menangani suatu masalah secara ilmiah. Heuristik mendahului ilmu. Ilmu sendiri justru wajib memerikan, menerangkan, membuktikan dan ini tidak mencakup secara tersurat, jalan yang dilalui menuju ilmu (heuristic). Heuristik pertama-tama merupakan upaya menemukan penyelesaian dalam lingkungan praktek kehidupan sehari-hari. Namun didalamnya mungkin terdapat bibit ilmu, yang lewat penerapan dapat menangani dunia harian dan dengan demikian menjadi alasan bagi timbulnya putusan etis.
Dalam dunia harian etika biasanya terdiri atas susunan kaidah dan banyak putusan evaluatif dalam kawasan dunia teratur tertampung dalam kaidah etis itu. Sistem suatu ilmu tetap melanjutkan susunan dan anggapan pengalaman prailmiah. Tidak hanya secara histories, melainkan juga mengenai kesahian tidak hanya factual tetapi juga logis. Setiap ilmu menyesuaikan diri dengan data, terbuka kepadanya, sekaligus berusaha menyelaraskan data ini, mengalih bentuknya di dalam jaringan lambang-lambangnya sendiri yang mempunyai daya bukti. Oleh karena itu ilmu merupakan lanjutan khas dari bakat manusia untuk mencari kiblat dan bakat itu telah tersedia sebelumnya. Timbulnya sistem rasional dari bakat-bakat tersebut, “genesis” ini, termasuk kesahian, wewenang ilmu.
Melayani masyarakat dapat menghasilkan pendirian ideologis. Yang dimaksud adalah mengabdikan ilmu kepada pilihan yang ditentukan oleh pandangan dunia (wawasan) dan atau sosial-politik. Ideologi dalam arti luas adalah setiap perangkat ide yang bersifat mengarahkan. Maka istilah ideologi tidak perlu berarti negatif. Ketegangan antara ilmu dan ideologi memaksa orang menempatkan ilmu, sebagai bagian rencana kerja sama pembangunan, dalam konteks yang lebih luas. Kebiasaan ilmiah menumbuhkan sikap kritis yang lama kelamaan menimbulkan ketegangan, yang kiranya merangsang antara agama dan ilmu. Konflik dengan ilmu dapat timbul terjadi penisbian (relativitas) segi teoritis dalam pandangan hidup religius karena tekanan dari pihak ilmu modern (astronomi, biologi dan psikologi). Ketegangan dapat berfaedah menghasilkan pengertian yang lebih mendalam mengenai sifat kebenaran religius yang tidak hanya kognitif melainkan juga kontekstual.
Sistem ilmiah bersifat dinamis, karena merupakan bentuk khas lewat obyektivitas dan ambil tenggang,mengenai usaha manusia menyingkapkan dunia dalam kebudayaannya.Ilmu merupakan bagian,mungkin juga alat,dalam strategi manusia yang menyeluruh. Strategi ini ialah keseluruhan kaidah untuk mencapai suatu tujuan.Metodologi ilmu harus tetap terbuka demi penyusunan kembali. Strategi ilmu adalah bagian strategi lebih luas dalam seluruh kebudayaan manusia.dalam kebudayaan itu “kenyataan” masih bermatra (dimensi) lebih luas dari pada segi-segi yang hanya dapat dipahami secara teoritis. Seluruh strategi ilmu merupakan kerangka acuan, ruang rengrengan pembenaran atau keterangan baru berlaku.


2.6 Perbedaan Pengetahuan Dengan Ilmu
Dari sejumlah pengrtian yanga ada sering ditemukan kerancuan antara ilmu dan pengetahuan, dalam kamus besar Bahasa Indonesia ilmu disamakan artinya dengan pengetahuan, ilmu adalah pengetahuan dari asal katanya, kita dapat ketahui bahwa pengetahuan dapat diambil dari kata knowledge. Sedangkan ilmu dari kata science,Pengetahuan bersifat prailmiah.Ialah pengetahuan yang belum memenuhi syarat ilmiah pada umumnya, sebaliknya, pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang harus memenuhi syarat ilmiah.
Perbedaan antara ilmu dan pengetahuan dapat dilihat dari perbedaab ciri-cirinya,Herbert L. Searles memperlhatkan ciri-cirinya sebagai berikut. Kalau ilmu berbeda dengan filsafat berdasarkan empiris, maka ilmu berbeda dengan pengetahuan berdasarkan ciri sistematisnya.

Dari beberapa kertrangan diatas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya
ilmu berbeda dengan pengetahuan, pebedaanhnya terlihat dari cara sifat sistematisnya dan cara menperolehnya.









BAB III
PENUTUP


3.1 KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas maka dapat di simpulkan sebagai berikut:

I. Ilmu tidak lain dari suatu pengetahuan, baik Natura atau pun sosial, yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematik menurut kaidah umum.dan pengetahuan logis dan mempunyai bukti empiris.
Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu, pekerjaan hasil tahu itu adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai. Dengan emikian pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.

II. Syarat ilmu:

 Ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti, baik yang berhubungan dengan alam (kosmologi) maupun tentang manusia (Biopsikososial). Ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti. Lorens Bagus (1996) menjelaskan bahwa dalam teori skolastik terdapat pembedaan antara obyek material dan obyek formal. obyek formal merupakan obyek konkret yang disimak ilmu. Sedang obyek formal merupakan aspek khusus atau sudut pandang terhadap ilmu. yang mencirikan setiap ilmu adalah obyek formalnya. Sementara obyek material yang sama dapat dikaji oleh banyak ilmu lain.
 Ilmu mensyaratkan adanya metode tertentu, yang di dalamnya berisi pendekatan dan teknik tertentu. Metode ini dikenal dengan istilah metode ilmiah.
 Pokok permasalahan(subject matter atau focus of interest). ilmu mensyaratkan adanya pokok permasalahan yang akan dikaji.

III. Karakteristik Ilmu:
1. Ilmu adalah sebagian pengetahuan yang bersifat empiris,sistematis,dapat diukur,dan dibuktikan,berbeda dengan iman,yaitu pengetahuan berdasarkan keyakinan Berbeda dengan pengetahuan. Ilmu tidak pernah mengartikan kepingan pengetahuan satu putusab tersendir, sebaliknya ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke objek yang sama dan saling berkaitan secara logis.
2. Ilmu tidak memerlukan kepastian secara lengkap berkenaan dengan penalaran perorangan, sebab ilmu dapat memuat didalamnya dirinya sendiri hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang belum sepenuhnya dimantapkan.

3. Ciri hakikinya ilmu adalah metodologi,sebab kaitan logis yang dicari ilmu tidak dicapai dengan penggabungan tidak teratur dan tidak terarah dari banyak pengamatan dari ide yang terpisah-pisah,sebaliknya ilmu menuntut pengamatan dan berpikir modis
4. kesatuan ilmu bersumber didalam kesatuan objeknya.

IV. Perbedaan antara ilmu dan pengetahuan dapat dilihat dari perbedaab ciri-cirinya,Herbert L. Searles memperlhatkan ciri-cirinya sebagai berikut. Kalau ilmu berbeda dengan filsafat berdasarkan empiris, maka ilmu berbeda dengan pengetahuan berdasarkan ciri sistematisnya.
Dari beberapa kertrangan diatas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnyailmu berbeda dengan pengetahuan, pebedaanhnya terlihat dari cara sifat sistematisnya dan cara menperolehnya.


DAFTAR PUSTAKA

Achmad Sanusi,.(1998), Filsafah Ilmu, Teori Keilmuan, dan Metode Penelitian : Memungut dan Meramu Mutiara-Mutiara yang Tercecer, Makalah, Bandung PS-IKIP Bandung.
Achmad Sanusi, (1999), Titik Balik Paradigma Wacana Ilmu : Implikasinya Bagi Pendidikan, Makalah, Jakarta : MajelisPendidikan Tinggi Muhammadiyah.
Agraha Suhandi, Drs., SHm.,(1992), Filsafat Sebagai Seni untuk Bertanya, (Diktat Kuliah), Bandung : Fakultas Sastra Unpad Bandung.
Filsafat_Ilmu,http://members.tripod.com/aljawad/artikelfilsafat_ilmu.htm
Ismaun, (2001), Filsafat Ilmu, (Diktat Kuliah), Bandung : UPI Bandung.
Jujun S. Suriasumantri, (1982), Filsafah Ilmu : Sebuah Pengantar Populer, Jakarta : Sinar Harapan.
Mantiq, http://media.isnet.org./islam/etc/mantiq.htm.
Moh. Nazir, (1983), Metode Penelitian, Jakarta : Ghalia Indonesia
Muhammad Imaduddin Abdulrahim, (1988), Kuliah Tawhid, Bandung : Yayasan Pembina Sari Insani (Yaasin)

Rabu, 17 November 2010

SKALA PENELITIAN./ SKALA PENGUKURAN

SKALA PENGUKURAN
Ada empat tipe skala pengukuran dalam penelitian, yaitu nominal, ordinal,
interval dan ratio.
1. 9.1 Nominal
Skala pengukuran nominal digunakan untuk mengklasifikasikan obyek, individual atau kelompok; sebagai contoh mengklasifikasi jenis kelamin, agama, pekerjaan, dan area geografis. Dalam mengidentifikasi hal-hal di atas digunakan angka-angka sebagai symbol. Apabila kita menggunakan skala pengukuran nominal, maka statistik non-parametrik digunakan untuk menganalisa datanya. Hasil analisa dipresentasikan dalam bentuk persentase. Sebagai contoh kita mengklaisfikasi variable jenis kelamin menjadi sebagai berikut: laki-laki kita beri simbol angka 1 dan wanita angka 2. Kita tidak dapat melakukan operasi arimatika dengan angka-angka tersebut, karena angka-angka tersebut hanya menunjukkan keberadaan atau ketidakadanya karaktersitik tertentu.
Contoh:
Jawaban pertanyaan berupa dua pilihan “ya” dan “tidak” yang bersifat kategorikal dapat diberi symbol angka-angka sebagai berikut: jawaban “ya” diberi angka 1 dan tidak diberi angka 2.
1. 9.2 Ordinal
Skala pengukuran ordinal memberikan informasi tentang jumlah relatif karakteristik berbeda yang dimiliki oleh obyek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini mempunyai informasi skala nominal ditambah dengan sarana peringkat relatif tertentu yang memberikan informasi apakah suatu obyek memiliki karakteristik yang lebih atau kurang tetapi bukan berapa banyak kekurangan dan kelebihannya.
Contoh:
Jawaban pertanyaan berupa peringkat misalnya: sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju dan sangat setuju dapat diberi symbol angka 1, 2,3,4 dan 5. Angka-angka ini hanya merupakan simbol peringkat, tidak mengekspresikan jumlah.
1. 9.3. Interval
Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa adanya interval yang tetap. Dengan demikian peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karaktersitik antara satu individu atau obyek dengan lainnya. Skala pengukuran interval benar-benar merupakan angka. Angka-angka yang digunakan dapat dipergunakan dapat dilakukan operasi aritmatika, misalnya dijumlahkan atau dikalikan. Untuk melakukan analisa, skala pengukuran ini menggunakan statistik parametric.
Contoh:
Jawaban pertanyaan menyangkut frekuensi dalam pertanyaan, misalnya: Berapa kali Anda melakukan kunjungan ke Jakarta dalam satu bulan? Jawaban: 1 kali, 3 kali, dan 5 kali. Maka angka-angka 1,3, dan 5 merupakan angka sebenarnya dengan menggunakan interval 2.
1. 9.4. Ratio
Skala pengukuran ratio mempunyai semua karakteristik yang dipunyai oleh skala nominal, ordinal dan interval dengan kelebihan skala ini mempunyai nilai 0 (nol) empiris absolut. Nilai absoult nol tersebut terjadi pada saat ketidakhadirannya suatu karakteristik yang sedang diukur. Pengukuran ratio biasanya dalam bentuk perbandingan antara satu individu atau obyek tertentu dengan lainnya.
Contoh:
Berat Sari 35 Kg sedang berat Maya 70 Kg. Maka berat Sari dibanding dengan berat Maya sama dengan 1 dibanding 2.
1. 9.5. Validitas
Suatu skala pengukuran dikatakan valid apabila skala tersebut digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Misalnya skala nominal yang bersifat non-parametrik digunakan untuk mengukur variabel nominal bukan untuk mengukur variabel interval yang bersifat parametrik. Ada 3 (tiga) tipe validitas pengukuran yang harus diketahui, yaitu:
1. Validitas Isi (Content Validity)
Validitas isi menyangkut tingkatan dimana item-item skala yang mencerminkan domain konsep yang sedang diteliti. Suatu domain konsep tertentu tidak dapat begitu saja dihitung semua dimensinya karena domain tersebut kadang mempunyai atribut yang banyak atau bersifat multidimensional.
1. Validitas Kosntruk (Construct Validity)
Validitas konstruk berkaitan dengan tingkatan dimana skala mencerminkan dan berperan sebagai konsep yang sedang diukur. Dua aspek pokok dalam validitas konstruk ialah secara alamiah bersifat teoritis dan statistik.
1. Validitas Kriteria (Criterion Validity)
Validitas kriteria menyangkut masalah tingkatan dimana skala yang sedang digunakan mampu memprediksi suatu variable yang dirancang sebagai kriteria.
9.6. Reliabilitas
Reliabilitas menunjuk pada adanya konsistensi dan stabilitas nilai hasil skala pengukuran tertentu. Reliabilitas berkonsentrasi pada masalah akurasi pengukuran dan hasilnya.
Referensi
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta.
Cahyono, Bambang Tri 1996. Metodologi Riset Bisnis. Jakarta: Badan Penerbit IPWI.
Dane, F.C. 1990. Research Methods. Brooks/Cole Publishing Company. Belmont California.
Djunaedi, Achmad. 2000. “Pengantar: Apakah Penelitian Itu?”. http://intranet.ugm.ac.id/~adjunaedi/Support/Materi/METLITI/a01metlitpengantar.pdf
Hempel, Carl Gustav. 2004. Pengantar Filsafat Ilmu Alam. Penerjemah Cuk Ananta Wijaya. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.